Aku Tiga Tahun Silam
Aku dan Tiga Tahun Silam

Ungaran, Maret 2017. Dok. Pribadi
Kala
itu, saat usiaku 17 tahun, memiliki kawan yang bisa mengajak maupun kuajak
jalan Bersama dengan berbagai cerita adalah mimpi hampir semua remaja pada
umumnya. Saling curhat perihal siapa cowok ini dan bagaimana persiapanmu menuju
perguruan tinggi atau sekadar menu apa yang akan kita santap siang ini dan baju
apa yang akan kita pakai di study tour nanti. Cukup, cukup semua hal sederhana
itu untuk jadi remaja Bahagia pada masa itu.
Permasalahan
yang muncul juga masih perkara temanmu yang ternyata menggosipimu saat Bersama
teman lain, atau aku yang ternyata menggosipi dia saat Bersama dia yang lain,
masih seputar itu. Atau permasalahan yang agak serius perihal bolos jam
membosankan untuk makan di kantin atau sekadar jajan keluar dan mendapat
hukuman memungut sampah, membaca shalawat atau paling parah-masuk ke kantor BK
dan menyumbat telinga dengan headset selama sesi ceramah, cukup seputar itu dan
semuanya amat menakjubkan.
Sampai
menginjak usia 18 Tahun permaslalahan yang kian kompleks mulai muncul, jika
sebelumnya satu masalah bisa langsung selesai, kali ini sebuah masalah bisa
saling berkaitan seperti genggaman. Jika pada usia 17 Tahun aku mengira bahwa
bercerita perkara apapun kepada kawanmu adalah sebuah Tindakan solidaritas,
maka pada usia ini aku menemukan sebuah titik kesadaran. Bahwa, untuk menjalin
sebuah pertemanan tidaklah harus menjadi terbuka pada apapun, aku cukup menjadi
temanmu selama aku mau dan mampu, pun sebaliknya.
Namun,
aku adalah aku. Aku tidak bisa menjadi kamu pun sebaliknya, apa yang kuyakini
belum tentu dapat dipahami orang lain tak terkecuali sikapku yang mulai
mengurangi tradisi bercerita. Aku meyakini bahwa aku cukup menjadi aku. Dan,
itulah keyakinanku yang sampai sekarang masih kuyakini sebagai sikap yang
egois.
Maka,
pada tahun-tahun sesudahnya aku mulai menjalani rutinitas tersebut. Sampai di
tahun ke-19 aku turut merayakan ulang tahun dengan sepi, bahkan mirisnya dunia
juga kala itu turut merayakan duka akibat pandemi yang hingga kini masih
terjadi. Aku dan 19 Tahun adalah aku dan sepi. Minim cerita atau bahkan mencoba
membuat cerita baru dengan orang baru, tidak. Kata kebanyakan orang yang di
sekitarku, aku dan 19 Tahun tidak hanya pribadi yang kosong, tapi juga mati
rasa.
Terlepas
dari semuanya, segala konflik antara aku dan 3 Tahun silam. Aku akan tetap
menyayangi kalian, segala pihak yang terlibat dalam 3 tahun terakhir ceritaku.
Aku yang hampir 20 Tahun turut berterimakasih kepada segenap kawan semasa itu
yang masih berbaik hati menjadikanku salah satu member dalam sebuah grub rumpi
yang kian hari kian sepi. Tanpa konflik kala itu, aku tidak akan mampu
semenerima saat ini, terlepas dari apa-apa yang terjadi, aku bangga pada diriku
sendiri masih kuat ada sejauh ini.

