Menjadi Kidal, Siapa yang Harus Disalahkan?


Salah satu gambar Inara (5) menggunakan tangan kirinya.
Salah satu gambar Inara (5) menggunakan tangan kirinya, Dok. Pribadi.

"Sejak dia bisa memegang sesuatu, sudah saya ajari menggunakan tangan kanan, termasuk menulis. Tapi ternyata cucu saya memang dilahirkan begini, kidal."
(Begitulah kutipan di salah satu film yang saya lupa judulnya).

Kasus Kidal di Dunia saat ini mencapai 11 persen, tak terkecuali yang dialami oleh adik saya, Inara (5). Awalnya saya mengira dia hanya belum terbiasa menggunakan tangan kanan, sebab memang kebanyakan anak-anak seperti itu. Namun keluarga dan saya tetap membiasakannya menggunakan tangan kanan.

Sampai akhirnya terjadi pandemi dan mengharuskanya belajar di rumah, hal tersebut terasa semakin nyata. Pada suatu ketika dia mendapat tugas membuat huruf C dan angka 2, contoh pertama, kedua dan ketiga dia selalu menuliskannya menggunakan tangan kiri sampai sang ibu menegur dan memintanya menggunakan tangan kanan.

Tidak disangka, dia menuliskan huruf C dan angka 2 secara terbalik, begitu berulang sampai sang ibu mencoba memintanya menggunakan tangan kiri dan, berhasil. Bahkan tanpa diberikan instruksi dia sudah memahami tugasnya terlebih dahulu.

Pada kegiatan selanjutnya, dia menggunakan tangan kiri sebagai pelaksana pekerjaan utamanya. Seperti menulis, menggunting, bahkan makan. Meskipun ia selalu dibiasakan menggunakan tangan kanan, tapi hasilnya akan selalu terbalik.

Suatu ketika, saat dia diminta pergi sekolah dan mengumpulkan hasil pekerjaan rumah, sang guru memintanya menulis ulang huruf-huruf tersebut menggunakan tangan kanan, dan hasilnya masih tetap sama, terbalik. Sang guru hanya bisa menegur orangtuanya sambil berasumsi bahwa sang ibu tidak pernah membiasakannya menggunakan tangan kanan.

Mendidik dan turut secara langsung mendampingi anak-anak belajar menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Terlebih, di masa pandemi seperti sekarang ini. Terlebih dengan kondisi spesial adik saya sekarang.

Tidak ada yang bisa disalahkan dari seorang anak yang kidal, pun sang guru tidak bisa menyalahkan begitu saja kondisi sang anak. Sebab seorang anak tidak pernah ditanya Tuhan apakah dia mau menjadi kidal atau tidak.

Semua anak terlahir dengan potensinya masing-masing, menjadi berbeda bukan berarti harus dikucilkan apalagi disalahkan, temukan potensi tersebut dengan tidak membatasi menjadi salah satu keputusan bijak bagi tumbuh kembang sang anak.










Postingan Populer